Di Balik Lembar Koran: Sehari Belajar di Jantung Redaksi Kompas

Suara sepatu yang beradu dengan lantai marmer, kilatan layar komputer yang tak pernah padam, dan lembar-lembar koran yang berbaris rapi menunggu waktu cetaknya, semua menjadi bagian dari satu pagi yang tak biasa. Ada rasa gugup yang samar, berpadu dengan semangat tinggi, ketika langkah kaki membawa kami ke tempat di mana berita lahir dan kata-kata bekerja dengan sungguh-sungguh.

Tak lama kemudian, terjawab sudah ke mana kami dibawa hari itu: sebuah kunjungan ke kantor redaksi Kompas, salah satu media terbesar dan paling dihormati di Indonesia. Bersama dosen saya, Pak Muis, beserta teman-teman dari kelas 6C, kami mengikuti kegiatan media visit ini sebagai bagian dari syarat mata kuliah Produksi Media Cetak dan Online. Namun, alih-alih terasa seperti tugas, hari itu justru menjadi pengalaman yang membuka wawasan dan menyenangkan secara personal.

Saya dan teman-teman disambut oleh para staf redaksi dan pimpinan redaksi yang dengan hangat berbagi cerita tentang perjalanan panjang Kompas, dari awal berdiri hingga eksistensinya di era media digital saat ini. Bagaimana mereka tetap mempertahankan kredibilitas dan konsistensi dalam menyajikan berita yang berkualitas menjadi poin penting yang saya catat dan kagumi.

Kami juga diajak melihat langsung suasana kerja para editor, penulis, hingga tim layout. Menyaksikan bagaimana mereka menyiapkan berita untuk terbitan harian memberi gambaran konkret tentang proses produksi media cetak, yang selama ini hanya saya kenal lewat teori di ruang kelas.

Tak kalah menarik, kami mendapat informasi mengenai program magang dan relawan di Kompas. Bagi saya pribadi, info ini sangat berharga karena membuka peluang untuk belajar lebih jauh dalam dunia jurnalistik profesional.

Puncak pengalaman hari itu adalah saat kami mengunjungi bagian percetakan untuk koran Kompas. Melihat bagaimana koran diproduksi secara massal untuk pertama kalinya benar-benar membuat saya takjub. Prosesnya dimulai pukul 10 malam dan berlangsung sekitar dua jam, memadukan teknologi mesin dengan ketelitian kerja manusia dalam beberapa tahapan yang masih dilakukan secara manual.

Di sana, saya dapat melihat secara langsung bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan koran, seperti jenis kertas khusus dan tinta cetak. Kami juga mengetahui bahwa koran-koran yang tidak lolos distribusi nantinya akan dihancurkan dan dikirim ke tempat daur ulang kertas. Dengan begitu, produk yang rusak tersebut tidak semata-mata menjadi sampah, tetapi dapat dimanfaatkan kembali secara lebih ramah lingkungan. Berbagai mesin canggih digunakan untuk mempercepat proses pencetakan, mulai dari cetak utama, pemotongan, hingga pemrosesan akhir seperti mem-packing koran yang siap dikirim ke berbagai daerah.

Kunjungan ini bukan hanya memenuhi tugas akademik, tetapi juga memperluas perspektif saya tentang dunia media. Saya pulang dengan rasa hormat yang lebih dalam terhadap kerja jurnalistik, dan semangat untuk suatu hari bisa ikut berkontribusi di dalamnya.